Langsung ke konten utama

Perlahan menghilang


"Haha siapa juga yang suka sama perempuan macam aku? Aku masih kayak gini".

Aku mendengar percakapanmu dengan teman dekatmu secara tidak sengaja.

Meja makan kita berbeda namun kantin yang sempit memaksaku mendengar setiap kata yang kalian bicarakan.

"Lah bohong! Aku dengar, kamu sudah ada yang deketin ya?" Tanya temanmu itu.

"Iyasih dan katanya mau serius juga..." Jawabmu dengan nada malu.

Aku bergegas membereskan piring makanku dan segera membayar lalu pergi, aku tidak mau mendengar sisa cerita itu.

Tidak! Aku sama sekali tidak cemburu karena dia ada yang mendekati. Aku tidak boleh cemburu. Aku tidak mau merasa cemburu dengan perempuan yang tidak ada hubungan apapun denganku.

Tapi entah kenapa rasanya panas di dalam dada ini. Kenapa aku peduli? Kenapa aku marah mendengar bahwa dia sudah ada yang mau menseriusi?

Seharian itu aku tidak bisa bekerja, aku merasa resah. Meresahkan sesuatu yang seharusnya bukan urusanku, apakah aku--?? Tidak, aku tidak peduli dengan urusan dia!

8 jam bekerja terasa lebih lama dari biasanya. Aku pulang, membereskan diri dan duduk di teras seperti biasanya. Dengan tatapan kosong.

Bagaimana kalau dia tidak menungguku datang?
Bagaimana kalau dia... Menerima lamaran laki-laki itu?

Aku tidak berani menjawab pertanyaan itu. Pun aku tak berani bertanya padanya apakah dia mau menungguku. Aku merasa tidak punya hak untuk melakukan itu...

Yang hadir memang tidak semuanya ditakdirkan untuk tinggal. Tetapi, mengapa seberat ini rasanya? Kalau memang tidak ditakdirkan bersama kenapa aku harus dipertemukan dengannya dari awal?

Aku terjaga melewati sisa malam itu. Berharap sang malam bisa membuatku lupa tentang apa yang membuatku sedih.

Berharap saat aku terlelap... Jiwa dan ragaku ikut menghilang dan aku tak perlu bertemu dengannya lagi...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

crushing pressure

"Hen, tau gak si A sama istrinya pindah" "Hen si B udah pindah" "Hen kok kamu belum pindah" Somehow being told that I'm not the only one with this circumstances doesn't reassure me. What do you know about my situation? Do you think you understand how I feel? Do you think someone that you thought have the same situation as mine REALLY got no help like me? Shut up. I thought some people didn't care about me anymore, but maybe they don't care about me in the first place?

Jika dan Hanya Jika

Aku kira kita sudah menyelesaikan semua urusan kita, Dan sebenarnya memang kita tidak pernah memulai apapun. Aku harap kita bisa bertindak biasa saja Seperti kamu berteman dengan teman laki-laki mu lainnya, Seperti aku berteman dengan teman perempuan yang lainnya, Jika memang memutuskan untuk tidak ada lagi rasa, Bukankah seharusnya memang kita bertindak biasa saja? Hanya dari bahasa tubuhmu pun aku bisa tahu, Kamu mencoba menghindariku. Aku paham tentang jarak wajar laki-laki dan perempuan Tapi kenapa mesti seperti itu? Dan kenapa mesti sejauh itu hanya kepadaku? Aku tahu cerita kita sudah usai sejak lama, Cerita yang usai bahkan sebelum semuanya dimulai. Tentang ku yang selalu mengejar bayanganmu, Bayangan yang secara bersamaan juga selalu menjauh dariku. Aku ingin semuanya kembali saja seperti dulu, ‘Dulu’ saat aku dan kamu hanya jadi teman biasa. ‘Dulu’ saat senyum dan gelak tawa kita tidak bercampur rasa. ‘Dulu’ saat kita beb...

Sejuta Harapan, Sejuta Masalah

Ditengah sibuknya kuliah, tentu pernah terpikir ingin jadi seperti apa nantinya kita saat dewasa, dan semua karakter di saat dewasa itu berakar dari kebiasaan yang kita lakukan sekarang. Pengalaman saya, banyak karakter yang gagal saya tanamkan ke diri saya. Beberapa karakter yang butuh kesabaran, dan beberapa karakter yang memang butuh bakat murni. Mulai dari karakter ideal pemuda kantoran jaman sekarang, hingga karakter pemuda religius... Dan pada akhirnya saya tidak bisa memaksakan diri untuk jadi seperti orang lain. Apa yang biasa saya lakukan ya itulah saya. Sebagai seorang yang tidak jelas apa tujuan dan keinginannya di masa depan, saya bisa bicara bahwa menjadi diri sendiri saja itu sudah cukup untuk menghadapi dunia, hanya butuh skill adaptasi kelas tinggi saja. Seperti mensyukuri sesuatu yang didapatkan, Tidak mengeluh ketika diamanahi sesuatu, Bahkan sesederhana bersabar.... Itulah yang terpenting menurut saya... Karena sudah terlambat bagi saya untuk ...