Langsung ke konten utama

You are not who you think you are


Kita selalu beranggapan bahwa
Kita tahu siapa diri kita
Mungkin iya dalam beberapa kasus tertentu
Tetapi jarang ada orang yang tahu siapa diri dia sebenarnya.

Bisa jadi kita beranggapan bahwa kita adalah seorang yang rajin
Atau religius, atau pintar, atau senang berolahraga dan lainnya
Tapi apa benar begitu?

Mendefinisikan identitas diri bukan perjalanan yang semudah itu
Identitas diri bukan sesuatu yang kita tahu secara subjektif saja
Tapi kita harus melihat dan menguji diri kita secara objektif juga.
Artinya kita harus bisa terlebih dahulu menjadi sebuah cermin
Yang disana tidak ada lapisan subjektifitas atau pembelaan diri.

Dengan memisahkan diri sebagai penilai dan yang akan dinilai
Akan terlihat siapa kita sebenarnya dalam level alam bawah sadar
Anggapan bahwa kita rajin, religius, pintar dan senang olahraga
Akan terbukti atau akan tidak terbukti dengan melihat perilaku kita
Bukan dari anggapan atau pengakuan diri kita saja.

Sulitnya melakukan evaluasi diri ini adalah kecenderungan kita untuk bias
Akan banyak pembelaan diri dan justifikasi yang kita lakukan
Padahal secara objektif kita tidak seperti itu dilihat dari perilaku.

Menganggap diri rajin tapi dalam keseharian tidak pernah ada usaha
Untuk bertindak selaku orang rajin (bangun pagi, cuci baju, beberes dll)
Tapi karena kita ada alasan “sedang capek”, “kemarin begadang” dan sebagainya
Maka kita biarkan penilaian itu baik meski tidak terbukti adanya.

Hal ini sangat tidak membantu menetapkan garis start kita
Dalam perjalanan kita meningkatkan kualitas diri
Bagaimana mungkin muncul keinginan memperbaiki diri
Jika kita sudah menganggap diri kita sempurna?
Padahal aslinya kita terlalu bias dan toleran terhadap diri kita
Yang kualitasnya masih dibawah anggapan yang kita berikan.

Karena sejatinya identitas kita adalah sesuatu yang kita kerjakan,
Tercermin melalui apa yang kita lakukan sehari-hari,
Bukan cuma suatu ‘anggapan’ atau opini yang kita berikan pada diri kita
Apalagi jika anggapan itu semata-mata hanya agar dipuji orang lain.

Ketidaksesuaian self-assessment terhadap kenyataannya di lapangan ini
Juga dapat memberikan impresi palsu kepada orang sekitar kita
Yang kemudian mendorong kita untuk memaksakan image palsu itu
Padahal sebetulnya itu hanya kedok yang isinya sangat kosong.
Contoh kita mengaku religius kepada orang lain, orang lain percaya
Maka setiap ada orang itu kita rajin beribadah.

Apa yang seperti ini bisa menjadikan kita orang yang religius?
Bisa, jika kita konsisten dan sadar bahwa beribadah itu harus dilakukan
Entah itu ada atau tidak ada orang yang melihat
Namun seringnya kita lakukan sesuatu hanya karena ingin membangun image
Atau pencitraan saja.

Melatih objektivitas kepada diri sendiri juga berarti melatih untuk jujur
Tanpa terkecuali kepada diri kita dan orang disekitar kita.
Dengan menyadari kekurangan maka kita akan sadar celah yang ada di diri kita
Sehingga kita bisa fokus terhadapnya, bukan menutup mata karenanya.

Sekarang saya sudah objektif menilai diri saya,
Lalu apa langkah selanjutnya?
Tegantung apa tujuanmu dan apa yang kamu inginkan.
Hal ini bervariasi pada setiap orang karena pasti memiliki
“Values” atau kualitas diri yang berbeda-beda yang ingin dikembangkan.
Contoh “values”: Kejujuran, Altruisme, Dapat diandalkan, Keberanian, dan lainnya.


Jika sudah tahu arah, lalu bagaimana kita melangkah?


Kita perlu melakukan Identity shifting!
Yaitu mengubah siapa diri kita melalui pembiasaan / aksi sehari-hari.
Ingat poin sebelumnya bahwa diri kita adalah cerminan apa yang kita lakukan.

Kebiasaan itu tidak bisa dihilangkan, namun sangat memungkinkan untuk terganti
Tentu jalannya tidak akan mudah, pasti pada perjalanannya ada progres stagnan
Dan bahkan progres negatif yang kita lalui karena kembali melakukan kebiasaan lama.
Jangan khawatir, itu hal biasa dalam self-improvement
Dan harus menjadi pembiasaan kita untuk tidak menyerah
Terkhusus ketika kita mengalami kemunduran.

 



Terkadang sedikit kemunduran membuat kita lupa
Bahwa sebenarnya kita sudah menjalani progres yang luarbiasa
Kita harus mulai sadari bahwa progres itu TIDAK MUNGKIN mulus
Apalagi ekspektasinya progres lurus seperti grafik fungsi linear A = Bx + C
Kemunduran pasti ada, yang terpenting kita selalu bangkit kembali untuk mencoba lagi

Bukankah begitu juga nyatanya kehidupan ini?
Adanya ketidaksempurnaan justru membuat hidup ini sempurna, kan :D

Jadi, untuk merangkum:

  • Identitas diri kita tercermin dari PERILAKU, bukan opini pribadi diri sendiri.
  • Kita harus bersedia menjadi penilai objektif terhadap diri kita (membohongi diri dalam penilaian ini berakibat fatal kedepannya)
  • Tentukan “personal values” yang ingin kita kembangkan dalam diri kita
  • Menyusun rencana pembiasaan kegiatan sehari-hari berdasarkan values yang kita pegang
  • Sadari bahwa progresnya PASTI tidak akan mulus, jangan menyerah jika ada kemunduran
  • Kita tidak akan gagal selama kita terus bangkit kembali!

Terimakasih telah membaca,
Hatur nuhun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

unfortunate circumstances

I noticed something different about myself, I no longer care about my appearance, I no longer care about people's feelings, Hell I no longer care about other people in general I have burned bridges and become this bitter person that lost the ability to empathize with others. Ada hal yang terjadi ketika kita berada dalam sebuah situasi terlalu lama, kita beradaptasi dengan sekitar kita dan lama kelamaan itu menjadi bagian dari diri kita. Saya tidak pernah membayangkan akan ada di posisi seperti ini begini lamanya. Semua hal di dunia ini jelas terlihat seperti sudah terencana dan terorganisir untuk membuat hidup saya sehambar mungkin sampai akarnya. Semua itu terjadi pada tahapan yang paling kecil dan perlahan yang sama sekali tidak saya sadari sehingga ketika saya mengetahuinya, semua itu sudah terlambat dan sudah terjadi pada tingkatan yang fundamental. Diri saya juga mengalami perubahan mikro itu seiring kehidupan saya yang bertransisi. Rasa empati yang hilang, semangat menjalani ...

The day after I k*lled myself

Before anyone wondering, no I’m not suicidal. I’m really afraid to die… but sometimes I couldn’t lift myself up to face this harsh reality either… This note isn’t my last note nor it is my suicide note, or whatever. This note is a closure, something that I needed for a long time, something that will serve me as a reminder that suicide is not a solution but rather another problem that will 100% spawn much more problems for people around me. What I wrote here is only a fiction about what would probably happened if I did end my life. Not to fantasize about dying or anything but this is just a reminder and an EVEN MORE reason why I shouldn’t give in… ============================== The day after I killed myself. The first one who will noticed my disappearance is probably my wife. Not contacting her for longer than 24 hours is already a cue that something is going on. I’ve told her so many times that I’m tired of living our marriage long-distance like this, I want to be by her side al...

crushing pressure

"Hen, tau gak si A sama istrinya pindah" "Hen si B udah pindah" "Hen kok kamu belum pindah" Somehow being told that I'm not the only one with this circumstances doesn't reassure me. What do you know about my situation? Do you think you understand how I feel? Do you think someone that you thought have the same situation as mine REALLY got no help like me? Shut up. I thought some people didn't care about me anymore, but maybe they don't care about me in the first place?