Langsung ke konten utama

Hidup penuh pura-pura


Yep, kepura-puraan adalah kenyataan hidup,
Semua orang pasti senang kalau aktingnya berhasil didepan orang,
Dan dari semua kepura-puraan itu,
Yang terparah adalah pura-pura terhadap diri sendiri hahaha!

Pura-pura cinta
Pura-pura peduli
Pura-pura temen
Pura-pura asik
Pura-pura kasihan
Pura-pura bodoh (walah yang paling bahaya nih!)

Saya yakin kebanyakan dari kita udah seengganya lihat akting mereka, well done, bravo!
Bikin semua dari kita mikir:
'Sebenernya apa sih untungnya ngibulin orang?'
'Apa coba bagusnya nipu orang?' dst, dst...

Cukuplah, guys.
Bisa gak kira-kira kita berhenti akting dan coba buat ungkapin semua unek-unek dan masalah?
Coba deh kita buka topeng masing-masing terus mencoba buat dewasa mulai detik ini.
Kalau ada masalah, langsung selesaikan,
Kalau ga peduli, jangan bantuin pake setengah hati,
Kalau ga seneng, jangan sok pake senyum palsu nyembunyiin masalah gitu.

Kita semua tau lah kalo kita juga pernah begitu.
Dan kalo dipikir emang gak ada tuh untungnya,
Cuma seneng dikit,
dikit,
dikit doang.

Udahlah guys yuk kita belajar dewasa,
Mulai memahami sekitar,
Mulai mencintai apa yang kita punya. dan
Mulai menghargai oranglain.

Umur gak menentukan kedewasaan,
Karena kedewasaan gak kayak bulu ketiak yang numbuh gitu aja cuy,
Tapi HARUS dibiasakan dan dilatih supaya matang.

Manners maketh man, bla bla bla, you name it lah.

Yang pasti orang 20 tahunan itu udah mesti dewasa,
Dan orang dewasa gak akan pernah pake topeng sandiwara didepan orang.
lol.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejuta Harapan, Sejuta Masalah

Ditengah sibuknya kuliah, tentu pernah terpikir ingin jadi seperti apa nantinya kita saat dewasa, dan semua karakter di saat dewasa itu berakar dari kebiasaan yang kita lakukan sekarang. Pengalaman saya, banyak karakter yang gagal saya tanamkan ke diri saya. Beberapa karakter yang butuh kesabaran, dan beberapa karakter yang memang butuh bakat murni. Mulai dari karakter ideal pemuda kantoran jaman sekarang, hingga karakter pemuda religius... Dan pada akhirnya saya tidak bisa memaksakan diri untuk jadi seperti orang lain. Apa yang biasa saya lakukan ya itulah saya. Sebagai seorang yang tidak jelas apa tujuan dan keinginannya di masa depan, saya bisa bicara bahwa menjadi diri sendiri saja itu sudah cukup untuk menghadapi dunia, hanya butuh skill adaptasi kelas tinggi saja. Seperti mensyukuri sesuatu yang didapatkan, Tidak mengeluh ketika diamanahi sesuatu, Bahkan sesederhana bersabar.... Itulah yang terpenting menurut saya... Karena sudah terlambat bagi saya untuk ...

Semua yang Terjadi, Terjadilah...

Akan ada saatnya seseorang sadar Bahwa beberapa pilihan dalam hidupnya salah, Apa yang telah dilakukannya keliru, Apa yang dikatakannya tak masuk di akal sama sekali, Terlalu memberi harapan, lalu bertindak tanpa pertimbangan, Hingga akhirnya menyakiti orang lain tanpa ia tahu. Ketika saat itu tiba, kata 'Maaf' tidak akan lagi bisa memperbaiki semuanya, Karena bukan hanya keadaannya rusak, Tetapi kerusakannya sudah tidak ada lagi di kala itu, Waktu telah menelannya bulat-bulat, Menjadikannya kerusakan yang abadi di masa lalu, Kerusakan yang tidak akan bisa diperbaiki..... Meskipun termaafkan. Buat saya, baru saat inilah saya sadari itu semua. Ya, begitulah... Saya memang bodoh, Selalu lambat dengan hal semacam ini. Dan mungkin sekarang dia juga sudah tidak lagi mempedulikan masalah ini, Entahlah... Saya tidak tahu... Dan tidak banyak yang bisa saya lakukan saat ini kecuali meminta maaf, Berharap kedepannya bisa kembali menjadi temannya. Terlebih setela...

Jika dan Hanya Jika

Aku kira kita sudah menyelesaikan semua urusan kita, Dan sebenarnya memang kita tidak pernah memulai apapun. Aku harap kita bisa bertindak biasa saja Seperti kamu berteman dengan teman laki-laki mu lainnya, Seperti aku berteman dengan teman perempuan yang lainnya, Jika memang memutuskan untuk tidak ada lagi rasa, Bukankah seharusnya memang kita bertindak biasa saja? Hanya dari bahasa tubuhmu pun aku bisa tahu, Kamu mencoba menghindariku. Aku paham tentang jarak wajar laki-laki dan perempuan Tapi kenapa mesti seperti itu? Dan kenapa mesti sejauh itu hanya kepadaku? Aku tahu cerita kita sudah usai sejak lama, Cerita yang usai bahkan sebelum semuanya dimulai. Tentang ku yang selalu mengejar bayanganmu, Bayangan yang secara bersamaan juga selalu menjauh dariku. Aku ingin semuanya kembali saja seperti dulu, ‘Dulu’ saat aku dan kamu hanya jadi teman biasa. ‘Dulu’ saat senyum dan gelak tawa kita tidak bercampur rasa. ‘Dulu’ saat kita beb...