Langsung ke konten utama

Ingin Segera Berakhir


Menjadi diri sendiri itu terkadang sulit,
terutama disaat orang lain mengharapkanmu untuk menjadi orang lain,
padahal tidak pernah ada satupun bagian itu dalam dirimu.

Kesalahan terbesar saya mungkin adalah aktif di ukm,
karena secara tidak langsung saya menjadi 'setara' pintar
dengan semua anggota disana.
Saya jadi selalu dianggap mengerti semua materi kuliah,
sekali saja saya bilang 'tidak mengerti',
akan muncul ekspresi tidak setuju dari orang-orang,
meskipun saya betulan tidak mengerti.

Sekali saja saya bilang IP saya rendah,
akan keluar wajah ragu yang menyebalkan.
sekalipun IP saya betulan rendah...

Maksud saya,
bandingkan saja dengan pemilik IP tertinggi 3.9
atau dengan IP kalian yang 'biasa' dan 'kebanyakan' 3.5 atau bahkan 3.7,
IP 3.1 itu sama sekali tidak ada apa-apa nya dibanding itu.
Tapi kenapa masih saya yang paling jago diantara kalian?...

Bandingkan dengan teman satu angkatan yang bisa lolos lomba nasional,
bisa juara lomba statistik nasional, bisa aktif di kepengurusan PKL,
bisa presentasi di seminar nasional, bisa partisipasi di event-event luar kampus,
Saya hanya mahasiswa biasa tanpa ambisi sejauh itu untuk prestasi...
Bukannya saya tidak mau berusaha,
hanya saja saya sadar saya tidak punya kesempatan untuk bersaing disini.
Tapi masih saja menurut kalian saya pintar dalam segalanya...
Terimakasih doanya. Saya selalu aminkan...

Tapi...

Bisakah saya jadi orang biasa saja, teman-teman?
Menjadi seseorang yang dinilai biasa di mata kalian,
Menjadi seperti kalian yang bisa mengata-ngatai orang lain 'pencitraan'.
Tidak dianggap paling pintar,
Tidak juga dianggap paling ambisius dan paling serius.
Bukan karena saya ingin menutup-nutupi usaha saya, kepintaran saya,
tapi karena memang saya asalnya orangnya biasa saja...

Terimakasih atas doa yang selalu kalian berikan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejuta Harapan, Sejuta Masalah

Ditengah sibuknya kuliah, tentu pernah terpikir ingin jadi seperti apa nantinya kita saat dewasa, dan semua karakter di saat dewasa itu berakar dari kebiasaan yang kita lakukan sekarang. Pengalaman saya, banyak karakter yang gagal saya tanamkan ke diri saya. Beberapa karakter yang butuh kesabaran, dan beberapa karakter yang memang butuh bakat murni. Mulai dari karakter ideal pemuda kantoran jaman sekarang, hingga karakter pemuda religius... Dan pada akhirnya saya tidak bisa memaksakan diri untuk jadi seperti orang lain. Apa yang biasa saya lakukan ya itulah saya. Sebagai seorang yang tidak jelas apa tujuan dan keinginannya di masa depan, saya bisa bicara bahwa menjadi diri sendiri saja itu sudah cukup untuk menghadapi dunia, hanya butuh skill adaptasi kelas tinggi saja. Seperti mensyukuri sesuatu yang didapatkan, Tidak mengeluh ketika diamanahi sesuatu, Bahkan sesederhana bersabar.... Itulah yang terpenting menurut saya... Karena sudah terlambat bagi saya untuk ...

Semua yang Terjadi, Terjadilah...

Akan ada saatnya seseorang sadar Bahwa beberapa pilihan dalam hidupnya salah, Apa yang telah dilakukannya keliru, Apa yang dikatakannya tak masuk di akal sama sekali, Terlalu memberi harapan, lalu bertindak tanpa pertimbangan, Hingga akhirnya menyakiti orang lain tanpa ia tahu. Ketika saat itu tiba, kata 'Maaf' tidak akan lagi bisa memperbaiki semuanya, Karena bukan hanya keadaannya rusak, Tetapi kerusakannya sudah tidak ada lagi di kala itu, Waktu telah menelannya bulat-bulat, Menjadikannya kerusakan yang abadi di masa lalu, Kerusakan yang tidak akan bisa diperbaiki..... Meskipun termaafkan. Buat saya, baru saat inilah saya sadari itu semua. Ya, begitulah... Saya memang bodoh, Selalu lambat dengan hal semacam ini. Dan mungkin sekarang dia juga sudah tidak lagi mempedulikan masalah ini, Entahlah... Saya tidak tahu... Dan tidak banyak yang bisa saya lakukan saat ini kecuali meminta maaf, Berharap kedepannya bisa kembali menjadi temannya. Terlebih setela...

Jika dan Hanya Jika

Aku kira kita sudah menyelesaikan semua urusan kita, Dan sebenarnya memang kita tidak pernah memulai apapun. Aku harap kita bisa bertindak biasa saja Seperti kamu berteman dengan teman laki-laki mu lainnya, Seperti aku berteman dengan teman perempuan yang lainnya, Jika memang memutuskan untuk tidak ada lagi rasa, Bukankah seharusnya memang kita bertindak biasa saja? Hanya dari bahasa tubuhmu pun aku bisa tahu, Kamu mencoba menghindariku. Aku paham tentang jarak wajar laki-laki dan perempuan Tapi kenapa mesti seperti itu? Dan kenapa mesti sejauh itu hanya kepadaku? Aku tahu cerita kita sudah usai sejak lama, Cerita yang usai bahkan sebelum semuanya dimulai. Tentang ku yang selalu mengejar bayanganmu, Bayangan yang secara bersamaan juga selalu menjauh dariku. Aku ingin semuanya kembali saja seperti dulu, ‘Dulu’ saat aku dan kamu hanya jadi teman biasa. ‘Dulu’ saat senyum dan gelak tawa kita tidak bercampur rasa. ‘Dulu’ saat kita beb...