Langsung ke konten utama

Postingan

Menyambut Bulan yang Suci

(Artikel dari muslim.or.id) Imam Abu Bakr Az Zur’i rahimahullah memaparkan dua perkara yang wajib kita waspadai. Salah satunya adalah اَلتَّهَاوُنُ بِالْأَمْرِ إِذَا حَضَرَ وَقْتُهُ, yaitu kewajiban telah datang tetapi kita tidak siap untuk menjalankannya Wahai kaum muslimin, hendaknya kita mengetahui bahwa salah satu nikmat yang banyak disyukuri meski oleh seorang yang lalai adalah nikmat ditundanya ajal dan sampainya kita di bulan Ramadhan. Tentunya jika diri ini menyadari tingginya tumpukan dosa yang menggunung, maka pastilah kita sangat berharap untuk dapat menjumpai bulan Ramadhan dan mereguk berbagai manfaat di dalamnya. Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah  ta’ala  senantiasa melihat kemaksiatan kita sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi aib kita, memaafkan dan menunda kematian kita sampai bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan. Ketidaksiapan yang Berbuah Pahit Imam Abu Bakr Az Zur’i  rahimahullah  memaparkan dua perkara yang wajib kita waspada...

Laki-laki Biasa

“I can't promise you a perfect relationship without arguments over our differences and trust issues. However, I can promise you that as long as you're trying, I'm staying” ―  Dreamer Quotes di atas menginspirasi saya untuk membahas hal ini. Peka bahwa nanti pun saya akan membutuhkan seorang pendamping, Seseorang yang menemani dan melewati semuanya bersama. Masih lama juga sepertinya, tapi saya yakin bahwa bertemunya saya dengan quotes itu bukan hanya sebuah kebetulan. Namun juga peringatan kalau harus ada persiapan jangka panjang untuk itu semua. Seperti yang dikatakan oleh dosen saya, "Mahasiswa laki-laki semester 1-4 itu jangan dulu pacaran, Listing aja dulu (ngelist), lihat siapa saja yang kira2 bisa jadi calon pendamping hidupmu nanti. Nah tar di tingkat 3 (semester 5) baru mulai pendekatan." Haha Dan beliau selalu menambahkan: "Kalau bingung pilih karena banyak pilihan, jangan heran, di kampus ini memang isinya orang2 terbaik dari ...

Bukan Penggemar Katak

Sore itu saya menyadari sesuatu yang aneh, saya tidak tau harus seperti apa saya mesti bertindak. Saya merasa jadi orang terbodoh se-bonasel. Yes, I hate myself more than anything else. Sebabnya karena saya masih naif terhadap perasaan. Dan Tuhan telah merencanakan sesuatu yang tidak pernah sedikitpun saya sangka, karena saya tahu tidak ada yang namanya kebetulan. Yap, semua terjadi dengan alasan tertentu, dan saya yakin kali ini adalah untuk memperbaiki suatu kesalahan saya... Tak terhitung berapa kali saya memaksa diri untuk berubah, menjadi orang yang lebih dewasa dan bertanggungjawab, menjadi orang yang lebih bisa diandalkan. menjadi orang yang lebih bisa jaga perasaan. I wish this is the last time i convince myself to change, Wake up boy, this is your time to rise...

Hanya Sedikit yang Kita Tahu

Titik ini seperti sebuah lembah di suatu gelombang transversal, yang secara berkala saya lewati. Titik terendah dari semua kepercayaan diri dan motivasi, karena ini adalah sumber dari semua tantangan yang akhirnya saya terima saat ini. Sudah hampir dua tahun saya kuliah di kampus ini, tetapi masih belum bisa masuk kedalam lingkungannya, pikiran ini sering terjadi saat saya ada di lembah gelap misterius ini, yang terus menerus bertanya pada saya "siapa kamu dan apa ini jalan yang benar bagimu?" Banyak sekali penyebabnya, masalah utamanya adalah akademik, kampus saya terlalu banyak punya mahasiswa/i unggulan, atmosfer disini bukan lagi tingkatan troposfer atau stratosfer, melainkan di termosfer dan bahkan eksosfer. Disini terlalu tinggi dan juga terlalu sesak bagi penduduk bumi biasa seperti saya. Saya tidak lagi mempermasalahkan cita-cita serta masa depan saya, saya ingin menjadi pilot, saya ingin jadi dokter, saya ingin jadi arsitek dll itu semua sudah saya ikhlask...

Forced Positivity

Akhirnya datang juga, waktu tiga bulan sekali yang membahagiakan buat para mahasiswa yaitu ujian, baik tengah semester atau akhir semester. Sebelum saya mengeluh tentang ini, mari kita berdoa supaya kita bisa melakukan yang terbaik di uts / uas yang kita hadapi. Aamiin... Di waktu gini lah banyak pemikiran negatif yang akhirnya muncul lagi secara ajaib, banyak juga penyesalan buat aktivitas yang dilewati dan entah itu baik atau buruk semuanya cuma tergantung sudut pandangnya kita. Saya semakin sadar, bahwa terlalu banyak waktu yang saya gunakan buat non akademik. Entah di ukm atau main. Soalnya banyak sekali kegiatan yang mesti dilakukan disana dan lumayan menyita waktu. Yaa memang sih ada kalimat "amanah tidak akan salah memilih pundak" tapi maaf mungkin pundak saya kurang siap untuk menerima amanah sebanyak itu. Amanah dipercayakan dengan kewajiban yang cukup berat, dan saya tahu saya pasti bisa melakukan amanah itu, tapi saya yakin tidak aka...

Malam Berkabut

Hidup adalah hidup, Ia membedakan, juga menyatukan dimensi kenyataan dan dimensi khayalan secara simultan. Memberikan kita ilusi yang nyata tentang sesuatu yang sebenarnya fana. Kehilangan adalah perasaan tersulit untuk diatasi di hidup ini,  bahkan sulit untuk sekedar diungkapkan. Rasa takut akan kehilangan terkadang menyesatkan kita pada jalan buntu, yaitu pada berhentinya harapan dan hancurnya kepercayaan. Padahal semua itu cuma terjadi hanya di diri kita, konflik perasaan individu yang bahkan tidak satupun tahu selain diri sendiri dan Tuhan Yang Maha Tahu, iya, hanya konflik di batin kita sendiri saja, tapi efeknya membatin hingga ke ubun-ubun Awalnya cinta adalah rasa, rasa suka berawal dari kesamaan, merasa ada suatu kecocokan misterius yang akhirnya menyatukan dua insan dalam satu himpunan, entah sebagai sesama akademisi, sesama aktivis organisasi, atau bahkan sebagai sesama pemegang peran edukasi. kan ada pepatah jawa yang katanya: " Witing tr...

Makna Kecerdasan

Lebih dari 14 abad yang lalu, para sahabat telah mengetahui mukmin mana yang paling cerdas. Hal itu bermula dari pertanyaan sebagian sahabat kepada Rasulullah. Ibnu Majah meriwayatkan dalam hadits berderajat hasan. Hadits ini dari Ibnu Umar, bahwa ada seorang Anshar yang menghadap Rasulullah saat Ibnu Umar duduk bersama beliau. يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya.” Orang itu bertanya lagi, “Mukmin manakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas.”  (HR. Ibnu Majah) Orang yang paling cerdas bukanlah orang yang paling tinggi...