Langsung ke konten utama

Postingan

Untukmu

Gambar dari game "To the Moon" Rembulan selalu mengingatkanku pada dirimu Sosok yang tidak pernah kumiliki Namun selalu kuharapkan dalam hati, Seseorang yang terlalu jauh untuk digapai Tapi tetap kukejar sejauh apapun jarak itu. Hanya kau yang bisa membuatku melakukan hal sebodoh itu. Indahnya cahaya yang kau pancarkan selalu membuatku tersipu Terlalu silau, membakar habis semua rasa penat di pundak,  Meskipun senyummu itu tidak pernah tertuju padaku Namun harapanku semuanya ada padamu Aneh bukan, terlebih ketika rasa ini hanya milikku seorang. Dasar bodoh. Zaman yang terus bergulir memaksa kita untuk jadi dewasa, Terutama di usia yang mendekati pertengahan 20an, Dikelilingi kerabat yang semakin hari semakin banyak Yang telah memutuskan pilihan untuk pendamping hatinya, Aku selalu bertanya-tanya apakah sudah saatnya Aku menentukan pilihan untukku sendiri... Yang selanjutnya memunculkan pertanyaan, Apakah kau juga punya perasaan yang sama denganku? Kalau saja aku tahu pasti ap...

Terkadang

Dibelakang semua kegiatan hectic selalu ada perasaan yang bertanya apakah semua yang dilakukan ini sepadan dengan apa yang saya dapatkan. Disitulah sebuah bayangan berbisik semua ini tidak sepadan bahwa saya tidak layak diperlakukan seperti ini dan bahwa saya lebih baik meninggalkan semuanya. Di satu sisi mendapatkan kepercayaan untuk mengerjakan suatu pekerjaan adalah sesuatu yang berharga, itu dapat menumbuhkan image profesionalitas diri. Namun diharapkan untuk selalu bisa multitasking dituntut untuk selalu mengerjakan semuanya dengan sempurna se termotivasi apapun saya, saya rasa saya lebih ingin diam atau lompat dari puncak tumpukan semua pekerjaan itu Ingin sekali berpura-pura sakit supaya tanggungjawab berpindah tangan dan terlepas dari pekerjaan Ingin sekali meledak ditengah kerumunan pekerjaan melebur bersama teriakan bahwa saya tidak kuat, saya tidak sanggup. Tahan... kamu bisa.

Halo? Siapa di sana?

Satu per satu kawan mulai pergi Menjajaki suatu hubungan yang sejati Entah kapan diri ini selesai mempersiapkan diri Mungkin kelak, suatu saat nanti. Perkara rencana hidup kedepan seharusnya jadi urusan masing-masing orang Tidak perlu ada saling dorong-mendorong, apalagi sampai kucil-mengucilkan. Posisi saya dalam urusan ini netral, mau mereka nikah cepat silahkan, nikah belakangan juga terserah Lagipula orang punya prioritas masing-masing dalam hidupnya kan. Yang menjengkelkan ketika kita dianggap lebih rendah daripada mereka yang sudah duluan, Atau ketika kita dicap "Merana" karena masih hidup sendirian. Sejujurnya saya sendiri sudah kebal dengan peer pressure seperti itu Ya bodo amat yang lain mau udah kawin kek, mau udah punya anak sembilan kek Apa urusannya hidup orang sama hidup saya? Terus kenapa kalau orang lain udah tapi kita belum? Apakah berarti kita orang yang paling hina di dunia ini? Silahkan aja kalau mau pandang begitu, saya pribadi tidak peduli.

Mulai membangun pola hidup sehat

Mari kita awali dengan mengubah makna sehat yang tadinya hanya sekedar "tidak sakit / tidak punya suatu penyakit" menjadi suatu keadaan bugar dimana tubuh kita bisa melakukan aktivitas dengan optimal. disclaimer: saya bukan ahli medis, bukan ahli gizi, bukan dokter, bukan juga pelajar dalam ilmu kedokteran, gizi, ataupun keperawatan, saya hanya membagi apa yang saya pelajari dari literatur dan Channel Youtube kesehatan dan kebugaran yang tentunya saya terapkan sendiri dan bekerja efektif selama 2 bulan rutinitas saya ini. Daftar Bahasan: - Ukuran sehat dan badan ideal - Makronutrisi - Intermittent Fasting - Olahraga rutin - Memulai dari awal - Penutup ================================= 1. UKURAN SEHAT, TARGET DAN BADAN IDEAL ================================= Badan yang ideal bukanlah badan yang punya otot kekar seperti Ade Rai dan binaragawan lainnya, badan idean bukanlah badan yang mesti memiliki six-pack, tetapi adalah badan yang memiliki komposisi tubuh seimbang antara otot...

Insekuritas

Pernah gak sih merasa jadi orang paling tertinggal di dunia ini?  Saya sih sering, padahal semuanya baik-baik aja tanpa masalah yang berat. Penyebabnya satu ini: sosial media. Setiap saya buka sosial media baik itu instagram, twitter, bahkan stori whatsapp dll dan lihat apa yang orang lain bagikan, saya selalu merasa lebih kecil dari orang lain, merasa hidup orang lain lebih baik dan akhirnya mulai menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa seperti mereka, sampai akhirnya hilang percaya diri dan hilang semangat. Sekuat apapun saya coba syukuri apa yang saya punya, rumput tetangga pasti akan selalu terlihat lebih hijau, hidup orang pasti akan terlihat lebih bahagia.  "lebih menyenangkan kayaknya kalau saya ada di posisi dia" atau "coba kalau dulu saya seperti dia juga" Begitu terus di pikiran, terlepas dari semua omongan itu benar atau tidak. ======= Saya percaya posisi saya sekarang itu sudah yang terbaik, saya pun yakin kalau sudah berusaha semaksimal mungkin dalam...

Gimana kedepan?

2021 saya jadikan awal perubahan di hampir semua hal keseharian saya, sejauh ini di Januari saya sudah tidak lagi pesan gofood, olahraga dua hari sekali, intermittent fasting jam 8 malam sampai jam 12 siang, meal prep untuk hari kerja, mengusahakan masak sendiri sampai bawa bekal ke kantor, Alhamdulillah. Target kedepannya adalah mengurangi asupan karbohidrat dan gula serta memperbanyak volume repetisi dan set latihan. Pertanyaannya adalah gimana kedepannya? Apa reaksi orang ketika dengar saya sudah tidak lagi makan sembarangan dan selalu mempertimbangkan apa yang dimakan? Gimana nanti saya jelaskan ke orangtua atau teman-teman kalau ketika saya pulang dan diajak makan saya agak pikir-pikir dan mungkin menolak? Saya takut sekali dianggap aneh. Pasti banyak orang-orang cibir "kamu kok gak bisa sih menikmati kehidupan?"  "Ketat banget sama diri sendiri juga"  "Nanti juga semua orang juga bakal mati kok, jadi ngapain sehat-sehat" Apa sih salahnya kalau saya m...

Yang kemarin

Di balik senangnya saya ketika dengar kabar teman-teman menikah, saya selalu tanya diri saya kenapa sih saya masih belum bisa seperti mereka. Jawabannya tentu tidak sesederhana 'belum punya calon untuk jadi pasangan', kalau seseorang yang saya anggap cocok dan sepadan dengan saya sudah saya temukan. Ini bukan juga perkara ada tidaknya modal untuk menikah, tetapi tentang kesiapan saya secara mental dan ilmu. Menikah itu bukan hanya tentang tinggal bersama, tetapi menyatukan dua insan, yang lebih luasnya lagi menyatukan dua keluarga besar yang berarti bukan hanya si A yang punya hubungan dengan saya, namun juga bapak, ibu, adik, kakak, nenek, kakek, paman, bibi daaaan banyak lagi yang menjadi keluarga baru saya nantinya. Buat saya rasanya semua itu sangat berat, mengurusi kerjaan dan diri saya sendiri saja saya masih belum mampu optimal. Saya masih butuh waktu untuk belajar lagi dan mengkondisikan cara saya membagi waktu. Kadang kalau ada yang tanya kapan saya menikah, sebenarnya...