Langsung ke konten utama

Postingan

Kehilangan, katanya.

Sebuah harapan, menurut saya adalah satu dari beberapa hal paling luarbiasa yang bisa kamu rasakan di dunia. Sebaliknya, harapan yang hilang akan membuatmu kurang bisa menerima kenyataan. Dunia mulai terlihat seperti semua isinya secara kolektif tidak sudi kamu bahagia. Ada visi yang hilang bersamanya, menjadikan kamu seakan buta akan hari-hari mendatang di masa depan. Ada hayal indah yang memudar, atau lebih tepatnya terpaksa harus dipudarkan karenanya. ----- Tetapi itulah hidup. Bukan hidup namanya kalau sepanjang jalannya kita selalu lancar-jaya-bahagia-sejahtera-selamanya. Kamu pasti akan selalu diingatkan, atau bahkan sesekali dipaksa, untuk menunduk pasrah tak berdaya. Diingatkan oleh dunia sekitarmu atas perintah-Nya, bahwa semua rencanamu bukanlah apa-apa ketimbang jalan yang Tuhan sudah tuliskan untukmu. Dipaksa turun dari egomu yang setinggi langit, agar kamu sadar diri atas semua hal yang kamu buat salah. Juga, agar kamu selalu ingat bahwa Tuhan memang punya kuasa penuh atas...

Selamat tinggal !

Dalam waktu yang tidak sebentar ini akhirnya saya mulai mencoba mengikhlaskan segalanya. Saya menyadari tidak semua hal dapat saya atur, saya juga menyadari tidak semua rencana dapat berjalan sesuai dengan harapan saya... dan yang terpenting saya sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. "Hidup adalah penderitaan", begitu kata filsuf zaman dahulu.  Tidak bisa kita mengharapkan 100% kebahagiaan dalam hidup kita, tapi tidak akan juga penderitaan itu ada di 100% hidup kita.  Dari situ saya kemudian belajar untuk memaafkan semuanya: kesalahan yang disengaja, yang tidak disengaja, bahkan sesuatu yang sifatnya memang sudah digariskan oleh Tuhan dalam takdir-Nya. Saya terima itu semua. Memaafkan bukanlah hanya untuk mereka yang memintanya, tetapi juga untuk diri saya sendiri yang sampai waktu lalu belum bisa memberikannya. Saya berharap di masa depan akan banyak orang yang juga berpikiran demikian. Saya yakin dunia akan lebih baik adanya jika itu terjadi.

Kipin kimi nikih?

  "Kapan kamu nikah?" "Udah lah nikah sama si Fulana aja" "Mereka aja udah menikah tuh, kamu kapan?" "Temen kamu aja ada yang udah punya anak lho" Topik pernikahan sudah jadi Frequently Asked Questions  di keseharian saya sejak saya masuk dunia kerja. Tetapi sesuatu yang seharusnya berkesan "menyemangati" sekalipun lama-kelamaan akan jadi sangat menyebalkan untuk didengar dan kesannya malah jadi "memaksa" jika terus diulang tiap kali ada kesempatan. Untuk klarifikasi, saya tidak anti dengan pernikahan, saya juga ingin suatu saat nanti menikah. Tetapi budaya "mengkompori" seseorang untuk menikah yang berkedok "menyemangati" ini saya rasa sama sekali  tidak menambah semangat saya untuk mengejar pernikahan. Ketika ada orang-orang yang selalu "memaksa" kamu untuk mendapatkan sesuatu yang menurutmu belum kamu butuhkan, kamu akan semakin yakin kalau sesuatu itu benar-benar belum kamu butuhkan. Seumpama ...

Apa kabarnya?!

Saya rasa makin kesini rasanya hidup makin membosankan. Tinggal di perantauan sendiri, jauh dari keluarga, dan tanpa teman-teman yang selalu ajak main. Padahal sebelum kesini bayangan saya nantinya saya bakal jadi seorang ASN muda yang rajin, profesional, mapan dan bahagia. Entah sejak kapan bayangan ambisi itu berhenti saya kejar. Malas, tanpa motivasi, dan kesepian. Deskripsi saya terhadap diri yang sekarang. Atau mungkin ini diri saya yang sebenarnya dan selama ini saya selalu semangat hanya karena ingin dilihat dan diperhatikan orang di sekitar saya? Penuh pikiran negatif dan kadang hampa. Interaksi yang berkurang dengan orang lain juga membuat semuanya tambah buram dan kelam. Kalau saya menghilang hari ini, apakah ada yang bakal sadar? Apakah ada yang penasaran mencari tahu kemana saya pergi? Kalau saya tidak lagi ada di sini, apakah ada yang sedih untuk saya?

Datang, tinggal dan pergi

  Enggak semua orang yang kita kenal bakal selalu ada di hidup kita, bukan cuma orang-orang yang kita cintai yang sudah tiada karena sudah waktunya, tetapi juga mereka yang masih hidup yang sekarang punya lingkaran pertemanan baru selain kita. Sampai saat ini saya yakin saya sudah kenal lebih dari 1000 orang, kenal dalam arti saling kenal dan pernah berinteraksi waktu dulu. Tetapi yang masih menjaga interaksi, saling berkabar dll orangnya sedikit dan itu-itu aja. Saya sih ngerasa fine dengan itu, malah kita jadi tahu siapa aja sih yang memang betul-betul punya keinginan untuk berteman dan punya interest yang sama dengan kita. Lagipula semua orang juga pasti punya prioritasnya masing-masing termasuk dalam hal siapa aja yang pantas buat selalu dikabarin dan emang dirasa seru buat diajak ngobrol. Terutama kalau udah menikah, prioritas pertamanya mesti pasangan dan kadang bisa ada istilah 'lupa teman' saking jarangnya kasih kabar. Makanya saya nganggap berkurangnya teman itu wajar,...

Menepi dan bersembunyi

Semuanya masih berjalan seperti biasa, Tidak ada yang berubah  Atau sejenak berhenti tuk menyapa. Semua masih seperti semestinya, Akan selalu berjalan maju Meski aku merasa terhenti di sini. Orang-orang tidak akan peduli Bagaimana perasaan seseorang Yang memang bukan seseorang signifikan. Semua akan tetap melakukan apa Yang mereka ingin kerjakan, Semua akan terus menjalani hidup Yang mereka percaya bisa Membawa kebahagiaan. Dia akan terus melangkah maju Satu persatu langkah lebih jauh  Dari tempatku sekarang. Dia akan terus bersinar lebih terang Di antara ribuan-jutaan orang lainnya Dan aku akan selalu bisa menemukannya Melihatnya dari bawah sini Menikmati setiap detik yang berlalu. Bedanya, kini aku hanya seorang lainnya Tidak lagi berlari ke arahnya Dengan langkah tergopoh Mencoba menggapai cahaya hangatnya Yang mungkin semua hal itu Tidak akan pernah dia tahu adanya. Aku menyerah. Duduk terdiam. Menepi dan bersembunyi. Menyadari bahwa aku bukanlah Pusat semesta.

Untukmu

Gambar dari game "To the Moon" Rembulan selalu mengingatkanku pada dirimu Sosok yang tidak pernah kumiliki Namun selalu kuharapkan dalam hati, Seseorang yang terlalu jauh untuk digapai Tapi tetap kukejar sejauh apapun jarak itu. Hanya kau yang bisa membuatku melakukan hal sebodoh itu. Indahnya cahaya yang kau pancarkan selalu membuatku tersipu Terlalu silau, membakar habis semua rasa penat di pundak,  Meskipun senyummu itu tidak pernah tertuju padaku Namun harapanku semuanya ada padamu Aneh bukan, terlebih ketika rasa ini hanya milikku seorang. Dasar bodoh. Zaman yang terus bergulir memaksa kita untuk jadi dewasa, Terutama di usia yang mendekati pertengahan 20an, Dikelilingi kerabat yang semakin hari semakin banyak Yang telah memutuskan pilihan untuk pendamping hatinya, Aku selalu bertanya-tanya apakah sudah saatnya Aku menentukan pilihan untukku sendiri... Yang selanjutnya memunculkan pertanyaan, Apakah kau juga punya perasaan yang sama denganku? Kalau saja aku tahu pasti ap...