Langsung ke konten utama

Postingan

the tests behind blessings, the blessings behind tests

I totally believe that everything happens for a reason. There’s no shame in not seeing the obvious part on your first try, because the universe as we know it is very, very twisted. My world has been flipped, shaken, and turned around since last year. Everything is different and unfamiliar. I have to adapt and learn to understand it once more. It is a SUPER blessing when I think about it. I’m sitting on, like, five granted wishes that I’m pretty sure not everyone gets. It looks like a coincidence at first, but it’s something that God wanted to happen. Maybe if I had known everything would turn out like this, I wouldn’t have been such an eyesore to everyone around me back then. I was notorious for not obeying rules and intentionally not attending social events just because I felt powerless and thought that nothing could go my way. And this has been my biggest lesson ever: not to think narrowly and assume that God didn’t care about me. Still, I wouldn’t have been able to s...

Beyond Blessed

It's over. It's finally over! Sumber dari segala sumber perasaan buruk yang saya rasakan sudah hilang. Alhamdulillah. Tidak terasa 5 tahun sudah berlalu sejak saya menginjakkan kaki di Gorontalo. Gorontalo dengan segala kelebihan dan kekurangannya menjadi tempat pertama saya bekerja. Menapaki kehidupan berkarir yang penuh petualangan. Bagi saya, tidak ada tempat yang lebih cocok bagi pemula karir selain disana. Namun seperti apa yang telah sering saya bicarakan, sejak dua tahun lalu, saya telah memiliki alasan untuk saya pergi. Stres, marah, sedih, semua itu telah saya lewati. Now the question is: "what am I going to do?"

Newfound Motivation

It's enough. I believe living like this is enough. It should be. It has to be. Ketika saya berencana menikah, tentu ini bukan kehidupan pernikahan yang saya bayangkan. Hampir dua tahun berlalu dan kami masih belum melihat ada jalan untuk kami hidup berdua. Semesta memang lucu ya. Saya mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Namun Yang Maha Kuasa lah yang menempatkan saya di posisi sekarang ini. Jika Yang Maha Kuasa berkehendak ini jalan bagi kami, selagi kami tetap berusaha, saya percaya kehidupan pernikahan seperti ini tidak akan Ia murkai. Pasti ada maksud dibalik keputusan-Nya membiarkan kami di posisi ini. Meski begitu saya hanyalah seorang manusia. Tidak ada salahnya bukan jika kadang saya merasa putus asa dalam tiap langkah saya? Hanya melangkah kedepan yang saya bisa lakukan. Meski itu sambil menangis, meronta dan mengumpat sekalipun. Jika saya terlihat melakukan segala cara halal yang bisa dilakukan, ya, saya memang se-putus asa itu dan nekat mencoba apa yang saya bisa. Biarkan kat...

At this point

I know how to describe this It's a feeling in which I'm powerless to change my situations. It's almost been two years now This feels like eternity, it's like all my life I've been in this position And the past is nonexistent, even if I remember it it's very vague and hazy. I feel like this situation will not get better, at least anytime soon. It surely will gets worse.

distractions, distractions, distractions.

i've done everything i could just to distract myself from reality let's call it "self improvement" for the sake of coolness but i know well that it doesn't help my situation not even the slightest reading books, writing gibberish on this blog, playing games, working out and going to the gym, bicycling, making papercrafts and even watching youtube videos can i call those a coping mechanism? sometimes i got really tired the reality got into my mind and i can't do any of those even if they're objectively fun in that situation i can't help but wonder when will this end? will this ever end?

crushing pressure

"Hen, tau gak si A sama istrinya pindah" "Hen si B udah pindah" "Hen kok kamu belum pindah" Somehow being told that I'm not the only one with this circumstances doesn't reassure me. What do you know about my situation? Do you think you understand how I feel? Do you think someone that you thought have the same situation as mine REALLY got no help like me? Shut up. I thought some people didn't care about me anymore, but maybe they don't care about me in the first place?

unfortunate circumstances

I noticed something different about myself, I no longer care about my appearance, I no longer care about people's feelings, Hell I no longer care about other people in general I have burned bridges and become this bitter person that lost the ability to empathize with others. Ada hal yang terjadi ketika kita berada dalam sebuah situasi terlalu lama, kita beradaptasi dengan sekitar kita dan lama kelamaan itu menjadi bagian dari diri kita. Saya tidak pernah membayangkan akan ada di posisi seperti ini begini lamanya. Semua hal di dunia ini jelas terlihat seperti sudah terencana dan terorganisir untuk membuat hidup saya sehambar mungkin sampai akarnya. Semua itu terjadi pada tahapan yang paling kecil dan perlahan yang sama sekali tidak saya sadari sehingga ketika saya mengetahuinya, semua itu sudah terlambat dan sudah terjadi pada tingkatan yang fundamental. Diri saya juga mengalami perubahan mikro itu seiring kehidupan saya yang bertransisi. Rasa empati yang hilang, semangat menjalani ...

Eat That Frog (Brian Tracy) Page #14

Latihan praktik yang dilakukan berdasarkan buku Eat That Frog halaman 14. Tulis 10 tujuan yang ingin dicapai di tahun 2024, tapi tuliskan dengan kalimat seolah-olah tujuan-tujuan tersebut sudah tercapai, kemudian tentukan yang mendatangkan dampak paling positif! 1. Saya telah konsisten berolahraga (bersepeda ke kantor, latihan beban di kos, dan ke gym di weekend) 2. Saya memiliki berat badan 70 Kg dengan massa otot signifikan 3. Saya telah mencapai total donor darah 40 kali 4. Saya telah membaca selesai 12 buku 5. Saya memiliki skor TOEFL 600 6. Saya berhasil menabung 50 juta 7. Saya berhasil menerbitkan 1 penelitian di jurnal (dan mengirimkan ke surat kabar) 7. Saya telah rajin sholat berjamaah di mesjid maupun sholat malam dan dhuha (serta rawatib) 9. Saya telah rajin mengaji dan mengikuti kajian (dan menuliskan di catatan kajian) 10. Saya telah rajin berpuasa sunnah (senin kamis, ayyamul bidh, dan puasa daud) Semua tujuan tersebut adalah sesuatu yang secara aktif dapat saya kontrol,...

The day after I k*lled myself

Before anyone wondering, no I’m not suicidal. I’m really afraid to die… but sometimes I couldn’t lift myself up to face this harsh reality either… This note isn’t my last note nor it is my suicide note, or whatever. This note is a closure, something that I needed for a long time, something that will serve me as a reminder that suicide is not a solution but rather another problem that will 100% spawn much more problems for people around me. What I wrote here is only a fiction about what would probably happened if I did end my life. Not to fantasize about dying or anything but this is just a reminder and an EVEN MORE reason why I shouldn’t give in… ============================== The day after I killed myself. The first one who will noticed my disappearance is probably my wife. Not contacting her for longer than 24 hours is already a cue that something is going on. I’ve told her so many times that I’m tired of living our marriage long-distance like this, I want to be by her side al...

Walking around aimlessly

There's a distinction between doing something meaningfully and just doing something for the sake of doing it. And right now I think I'm doing the latter. Di antara berbagai keputusan yang berdampak besar bagi hidup saya, menikah dengan istri saya adalah hal yang paling memberikan dampak positif dibanding keputusan apapun. Masih berpisah dengan istri menjelang setahun pernikahan kami merupakan hal yang tidak pernah saya duga. Selain kesulitan yang saya rasakan, saya juga kasihan dengan istri saya dan keluarga di Sumbar yang masih terpisah dengan saya dan belum bisa saya berikan kepastian kapan saya pindah. Sehari-hari rasanya sungguh hambar, seperti yang saya katakan di awal bahwa saya merasa apapun yang saya lakukan menjadi tidak bermakna dan sia-sia. Karena semua hal yang saya kerjakan tidak akan pernah mendekatkan saya pada istri saya, tidak akan mempercepat kepastian kapan saya pindah. Saya mulai menjadi apatis terhadap semua orang disekitar saya dan hal itu cepat mereka tan...

You are not who you think you are

Kita selalu beranggapan bahwa Kita tahu siapa diri kita Mungkin iya dalam beberapa kasus tertentu Tetapi jarang ada orang yang tahu siapa diri dia sebenarnya. Bisa jadi kita beranggapan bahwa kita adalah seorang yang rajin Atau religius, atau pintar, atau senang berolahraga dan lainnya Tapi apa benar begitu? Mendefinisikan identitas diri bukan perjalanan yang semudah itu Identitas diri bukan sesuatu yang kita tahu secara subjektif saja Tapi kita harus melihat dan menguji diri kita secara objektif juga. Artinya kita harus bisa terlebih dahulu menjadi sebuah cermin Yang disana tidak ada lapisan subjektifitas atau pembelaan diri. Dengan memisahkan diri sebagai penilai dan yang akan dinilai Akan terlihat siapa kita sebenarnya dalam level alam bawah sadar Anggapan bahwa kita rajin, religius, pintar dan senang olahraga Akan terbukti atau akan tidak terbukti dengan melihat perilaku kita Bukan dari anggapan atau pengakuan diri kita saja. Sulitnya melakukan evaluasi diri ini adalah kecenderunga...

Early bird through and through

Bangun pagi, atau lebih tepatnya bangun sebelum pagi menurut saya adalah sesuatu yang semua orang harus coba lakukan. Bagi saya pribadi yang tidak bisa tidur terlalu larut jelas hal ini sangat mudah dilakukan. Jam 09.00 sudah tidur, kemudian sekitar jam 03.30 terbangun dengan siap melakukan aktivitas di hari tersebut. Tentu hal ini akan terputus ketika saya terpaksa terjaga hingga malam karena ada pekerjaan, ada aktivitas sosial dengan teman, atau sakit yang memaksa saya terjaga hingga tengah malam. Lingkungan keluarga di masa kecil juga saya yakin 99,99% mempengaruhi kebiasaan ini. Di rumah, mama papa selalu membiasakan sudah mematikan lampu rumah jam 08.30, kecuali ketika ada tamu yang datang, atau ada acara sosial di sekitar rumah. Hal ini terbukti juga ketika saya kuliah, saya biasa bermain mobile legends dengan teman-teman hingga pukul 01.00 dini hari hampir setiap malam sehingga saya kesulitas bangun pagi. Kebiasaan tidur dan bangun awal ini tentu bukan konsep baru yang mind-blow...

Utamakan* self-care! (*syarat & ketentuan berlaku)

  Menjadi orang yang peduli terhadap diri sendiri itu sulit, terutama ketika pekerjaan menumpuk dan sama sekali tidak punya waktu untuk diri sendiri. Saya pribadi baru belakangan ini memprioritaskan itu dengan menempatkan diri saya di atas pekerjaan. Alhasil banyak sekali hal yang bisa saya lakukan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebagai pegawai relatif baru yang diharapkan bisa ini itu dan hanya bisa "iya pak, siap pak---" saya tidak punya pilihan lain kecuali menjalankan apa yang saya terima meskipun kadang pekerjaan lain sudah menumpuk. Keadaan itu makin parah karena saya memang punya bakat diluar pekerjaan teknis, dari desain grafis photoshop, MC, hingga hal sepele seperti memimpin senam. Siapa yang dengan akal sehatnya melihat pegawai serba bisa dan berkata "Ah dia kan bisa ini itu, kasih saja kerjaannya ke orang lain", yang ada malah semakin diberdayakan dengan dalih "Kan cuma kamu yang bisa" hmmmmmmm. Apakah jadi orang yang serba bisa itu harus ...

Hubat habit hubat habit

  Membangun dan terus mengusahakan perbaikan diri sendiri adalah tanggungjawab kita masing-masing. Kebanyakan orang mungkin berhenti untuk melakukan itu ketika sudah berada di "zona nyaman". Misal ketika sudah bekerja, menikah, menjadi ayah/ibu dan seterusnya. Ilusi kesempurnaan dan kecukupan itu kadang membuat kita merasa telah "settle" karena sudah puas dengan kualitas hidup yang telah kita miliki. "Untuk apa sih jadi lebih baik? Kan saya ga ngapa-ngapain juga udah cukup?" "Gak ada salahnya kan kalau saya di titik ini sekarang?" "Istri saya terima saya apa adanya kok" Pernyataan seperti itu sepenuhnya saya pahami, tentu perbaikan diri pun ada batasnya. Justru pemikiran seperti "perbaikan itu seumur hidup" atau "tidak pernah puas" terhadap diri sendiri itu berbahaya dan akan berbalik menajadikan kita malas untuk berbuat apapun. Bagi saya pribadi, saya masih ingin berusaha jadi diri yang lebih baik lagi. Setidaknya s...

Little victories

Hari ini rasanya luarbiasa. Bangun pagi, lanjut jogging, Kemudian beres-beres kamar, Mandi, cuci sepatu, habis itu baca buku, Dilanjut rangkai project papercraft Yang gak lanjut dari jaman kapan. Siangnya langsung rebus daging sapi Sisa kurban kemarin untuk dimasak, Makan sambil nonton film di laptop yang Sejak lama direncanakan untuk ditonton. Selesai, tidur siang. Hari ini terlampau produktif dan saya suka. Kapan lagi bisa me time tanpa urus kerjaan? Disela-sela senin-jumat yang super gila, Dan kadang sabtu-minggu terus kejar target, Menurut saya hari ini sangat langka, Untuk itu saya bersyukur. Ah andai tiap weekend seperti ini... Tapi saya tidak mau terlalu berharap.

Checkpoint, stop!

Saya masih punya banyak sekali tujuan. Semua belum tercapai dan terasa jauh, Tapi mungkin akan selalu terasa begitu? Saya ingin jadi orang yang bisa diandalkan Tapi saya tidak ingin terlalu diandalkan, Kalimat itu bisa dimengerti kan? Ketika kamu bisa semua hal Maka pekerjaanmu bertambah, Hingga kamu menyesal pernah unjuk bakat Padahal dalam hati saya, nurani saya, Saya sangat ingin diri berkembang, Jadi seseorang yang mapan dengan keahlian. Bermanfaat untuk orang disekitar saya, Juga menjadi role model mengagumkan Untuk istri saya dan tentu anak-anak kami Di kemudian hari. Saya ingin jadi orang yang cakap berbicara Apalagi di depan umum tentang hal penting. Untuk itu saya kadang bicara depan cermin Konsumsi YouTube full bahasa inggris, Sedikit-sedikit berani bicara di rapat kantor, Kadang juga memandu acara dengan Pemda. Secara pengetahuan tentu saya ingin jadi Seseorang yang luas ilmunya. Bukan hanya ilmu dunia tapi juga akhirat. Maka saya menyempatkan minimal Seminggu sekali menyima...

Pusing dengan semua

Saya lelah Saya tidak bisa terus seperti ini Saya ingin kembali diantara Mereka yang saya cintai. Hari-hari mulai terasa sangat membebani Hari kerja... Akhir pekan... Hari kerja... Begitu siklusnya, mungkin hingga kiamat. Pekerjaan yang terus menumpuk Kewajiban yang tiada habisnya Dan rasa rindu yang tiada orang mengerti, Saya ingin kembali. Berapa lama bisa saya tahan terus berjalan Tanpa tujuan, kejelasan dan kepastian itu? Lambat laun mereka kembali lagi kesini Duduk hingga berjalan di samping saya Mendekap dan menggoda, berkata  "Ikutlah denganku, kita pergi dari dunia ini" Telah hilang masa mereka di masa lalu Saya dan pengalaman tentu tau lebih baik Tidak mengacuhkan penawaran gila itu, Tapi sampai kapan saya bisa tahan?

Remorse

Aku tidak tahu berapa kali aku membuatnya menangis Tangis sedih hingga ia terjaga semalaman karenanya Sulit untukku menjadi bagian dari hidupnya Disaat aku beribu kilometer jauhnya dari dia Tentu komunikasi jarak jauh solusinya Tapi apakah itu bisa selalu diandalkan untuk berkomunikasi? Sekali lagi jarak mempersulit segalanya Dan aku mengutuknya untuk itu Canda dan serius tidak bisa diartikulasikan dengan baik lewat pesan teks Itulah kali pertama aku kesal dan membuatnya sedih sejadi-jadinya Aku ingat betapa merasa bersalahnya aku di pesawat pulang itu "Ciye keduluan mantan lagi" pesannya setelah ia mengirim sebuah undangan digital Aku yang lelah karena perjalanan sudah tidak lagi bisa menggunakan nalar yang lurus Langsung ku jelaskan kenapa itu menyakiti perasaanku dan ia tidak membalas semalaman Ketidakberdayaan ku untuk mengatakan langsung padanya Entah ia sengaja mematikan handphone atau sengaja tidak membaca dan membalas pesanku Adalah hal yang sejujurnya membuatku ingin...

Kali ini berbeda

Saya sangat bahagia. Tidak ada kata yang lebih bisa mendeskripsikan keadaan saya sekarang selain itu. Meskipun tidak semuanya berjalan sempurna sesuai dengan apa yang saya inginkan, tetapi tidak sedikit pula hal-hal yang menurut saya sangat di luar ekspektasi ketika itu menyangkut rencana saya kedepan di hidup ini. Semenjak memilih seseorang yang akan saya jadikan sebagai pendamping hidup dan mati, semuanya jadi lebih terarah. Dari apa yang mesti saya prioritaskan, ingin jadi orang dewasa yang seperti apa, hingga hal spesifik seperti tempat bernaung di hari tua nanti, semua terlihat bayangnya di ujung jalan sana. Kalau orang bilang rahasiakan rencana dan tunjukkan hasil, saya lebih setuju kalau rencana juga ditunjukkan supaya saya bisa sekalian meminta didoakan oleh yang membaca dengan harapan semoga Allah SWT sebaik-baik perencana dapat mengabulkan apa yang saya ajukan. Jangka pendeknya saya berencana dalam 1 tahun dari sekarang akan menikah dan mutasi ke tempat istri, sedangkan renta...

Diskoneksi

The universe doesn't revolve around you. Gitu kata orang luar mah. Makin kesini makin sadar kalau saya bukan satu-satunya protagonis, Karena semua orang adalah protagonis di hidup mereka masing-masing. Enggak semua orang bisa punya waktu untuk peduli tentang saya. Terlalu sering saya berandai-andai apakah teman-teman saya disana Memikirkan bagaimana kabar saya atau sekedar ingat dengan saya. Terlalu banyak waktu terbuang hanya memikirkan apakah mereka peduli. Jawabnya tentu tidak sesimpel "ya" atau "tidak" Jelas apabila saya bertemu maka mereka akan menerima saya Dengan tangan terbuka dan sambutan yang hangat. Tentu saja akan selalu ada kursi kosong yang mereka sediakan Untuk saya ketika saya pulang ke kampung halaman. Tetapi bagi saya yang selalu memasukkan hati apapun perkataan Maupun perbuatan orang-orang disekitar saya, Sulit sekali percaya akan adanya kepedulian itu. Ketidaksesuaian kenyataan dan susahnya menentukan Status mereka dalam kehidupan saya inilah...